ASPIRASISULSEL.ID, GOWA – Lapas Perempuan Kelas IIA Sungguminasa menggelar pelatihan kemandirian di bidang pertanian bagi warga binaan sebagai langkah strategis mendukung program Astacita dan Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam bidang ketahanan pangan, Rabu (13/5/2026).
Pelatihan yang berfokus pada budidaya tanaman cabai tersebut terselenggara melalui kerja sama dengan Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku dan diikuti sebanyak 20 warga binaan yang sebelumnya telah tergabung dalam kegiatan korve kebun.
Kegiatan ini menghadirkan instruktur dari BBPP Batangkaluku, Ferial, bersama dua staf pendamping, serta didukung jajaran Seksi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Sungguminasa.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Sungguminasa, Yohani Widayati, yang membuka langsung pelatihan tersebut menegaskan komitmen pihaknya dalam membekali warga binaan dengan keterampilan yang bermanfaat.
“Pelatihan ini merupakan bentuk komitmen Lapas dalam membekali warga binaan dengan keterampilan, khususnya di bidang pertanian. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga berdampak langsung dalam mendukung ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya menerima materi teori terkait teknik budidaya cabai, tetapi juga praktik langsung di lahan pertanian milik lapas. Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku turut mendatangkan satu unit traktor untuk membantu proses pengolahan lahan, mulai dari menggemburkan tanah, membersihkan sisa tanaman, hingga pembuatan bedengan.
Usai pengolahan lahan, peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan penyemaian bibit cabai dan pemasangan mulsa guna menjaga kelembapan serta suhu tanah.
Instruktur BBPP Batangkaluku, Ferial, menyatakan pihaknya siap memberikan pendampingan berkelanjutan agar program tersebut dapat berkembang menjadi unit usaha produktif.
“Kami akan hadir melalui pelatihan, pendampingan, dan evaluasi secara berkala agar kegiatan ini tidak hanya berjalan, tetapi juga berkembang menjadi unit usaha produktif yang berkelanjutan bagi warga binaan,” katanya.
Menurutnya, pelatihan tersebut dirancang dengan pendekatan pertanian modern agar para warga binaan memiliki keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pidana.
Melalui sinergi lintas lembaga ini, pembinaan warga binaan diharapkan tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. (*).














